{"id":36,"date":"2013-10-26T03:31:57","date_gmt":"2013-10-26T03:31:57","guid":{"rendered":"http:\/\/anomindonesia.com\/news\/?p=36"},"modified":"2013-10-26T03:31:57","modified_gmt":"2013-10-26T03:31:57","slug":"susah-untuk-serius","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/anomindonesia.com\/news\/2013\/10\/susah-untuk-serius\/","title":{"rendered":"Susah untuk Serius"},"content":{"rendered":"<p>Buat presenter cantik Dian Ayu Lestari, punya pacar komedian seperti Omesh memiliki sejumlah plus-minus. Kalau ditanya gimana rasanya punya pacar yang kocak seperti Omesh, ia bakal jawab enak ada yang bikin ketawa kalau lagi suntuk. Tiap ketemu, bawaannya senang.<\/p>\n<p>\u201cLihat ekspresi mukanya aja udah kocak banget. Yap, Omesh memang sudah bawaannya lucu. Mungkin orang kalau melihat kami itu karakternya beda. Saya terlihat serius, deangkan Omesh parah banget ngocolnya. Sebenarnya sih, karakter saya sehari-hari tidak seserius kalau sedang membawakan\u00a0berita. Karakter saya lebih mirip yang di Sketsa. Saya orangnya suka bercanda,\u201d kata Dian Ayu.<!--more--><\/p>\n<p>Satu lagi serunya sama Omesh, Dian bisa nanya-nanya soal peran sama Omesh. Misalnya, gimana mimik wajah dan gesture saat melakukan adegan kocak. Omesh dulu anak teater parodi. Sebaliknya, Dian sering kasih saran ke Omesh tentang gaya memandu acara. Kalau acaranya cukup formal, seperti waktu menjadi host Indonesia Mencari Bakat (IMB), Dian minta dia mengurangi porsi bercanda.<br \/>\n\u201cSelama dua tahun pacaran, bisa dibilang kami jarang berantem. Paling-paling, saya ngambek gara-gara Omesh nggak bisa diajak ngobrol serius. Nah, itu dia nggak enaknya pacaran sama komedian. Giliran kita mau bahas sesuatu yang serius, dia masih menanggapinya dengan bercanda. Misalnya, saya minta saran tentang pekerjaan, saya udah cerita panjang lebar, terus bertanya ke dia, \u201dJadi, aku<br \/>\nmesti gimana?\u201d Eh, dia menjawabnya dengan candaan. Terus kalau saya bilang, \u201dSerius nih!\u201d Jawabannya, \u201dOh, jadi serius? Eh beneran nih? Yakin mau nanya sama aku?\u201d.<br \/>\nHal itu bisa berlangsung sampai satu jam. Capek juga kan mau ngobrol serius terus-terusan diajak ngocol, Dian pun ngambek. Kalau sudah ngambek beneran, baru dia menyudahi aksinya dan mendengarkan dengan serius.<br \/>\n\u201cTapi, anehnya, saya juga nggak betah lama-lama ngambek. Paling satu jamdua jam, saya udah ketawa-ketiwi lagi gara-gara lihat ekspresi mukanya. Saya dan Omesh punya panggilan khusus. Saya panggil dia abi, Omesh panggil saya umi. Itu ada ceritanya. Jadi, saya kan tiga bersaudara. Kakak perempuan saya punya anak. Kalau panggil orang tuanya, mama-papa.<br \/>\nKalau panggil saya dan Omesh, abi dan umi. Panggil adik saya dan pasangannya, ayah-bunda. Biar sama-sama jadi anak, bukan keponakan. Panggilan itu akhirnya kita pakai juga. Omesh nggak hanya mempraktikkan candaannya kepada saya. Tetapi, kepada keluarga saya juga. Dia sudah cukup dekat dengan keluarga saya dan nggak pernah jaim. Malahan, dia berani lho bercanda sama oma saya.<br \/>\nOma saya itu justru lebih kangen sama Omesh daripada saya. Huhuhu. Ini siapa yang cucu oma, ya? Masak kalau saya ke Surabaya dan ketemu oma, beliau malah menanyakan, \u201dOmesh mana?\u201d Hmm\u2026<br \/>\nSaya antara keki dan senang. Keki karena \u201dkalah\u201d berebut perhatian dari oma. Senang karena itu berarti Omesh diterima di keluarga. (nor\/c10\/ayi)<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/pasundanekspres.co.id\/pasundan\/4514-susah-untuk-serius\">Sumber<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Buat presenter cantik Dian Ayu Lestari, punya pacar komedian seperti Omesh memiliki sejumlah plus-minus. Kalau ditanya gimana rasanya punya pacar yang kocak seperti Omesh, ia bakal jawab enak ada yang bikin ketawa kalau lagi suntuk. Tiap ketemu, bawaannya senang. \u201cLihat &hellip; <a href=\"https:\/\/anomindonesia.com\/news\/2013\/10\/susah-untuk-serius\/\">Lanjutkan membaca <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":37,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/anomindonesia.com\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36"}],"collection":[{"href":"https:\/\/anomindonesia.com\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/anomindonesia.com\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/anomindonesia.com\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/anomindonesia.com\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=36"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/anomindonesia.com\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":38,"href":"https:\/\/anomindonesia.com\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36\/revisions\/38"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/anomindonesia.com\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/37"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/anomindonesia.com\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=36"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/anomindonesia.com\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=36"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/anomindonesia.com\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=36"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}